Tarbiyah Bukanlah Segalanya, Tapi Segalanya Bisa Bermula Dari Tarbiyah

perjalananSuatu ketika Ibnu Rawahah menarik tangan Abu Darda’ seraya mengatakan, “Akhi, ta’nul nu’minu sa’ah.” Saudaraku, mari sejenak kita beriman. Ibnu Rawahah ingin mengajak sahabatnya, Abu Darda, untuk duduk, bertafakkur, berdzikir, saling menasehati, berdiskusi tentang kebaikan, mengenali jalan-jalan taubat, menganjurkan infaq, berpuasa, shalat malam, dan lain-lain.

Saudaraku, Kita sangat memerlukan adanya majelis dan forum yang dapat mengasah dan memperbarui iman seperti itu. Rasulullah pun pernah berwasiat bahwa keimanan kita bisa lusuh ibarat pakaian, karenanya ia berpesan agar kita selalu memperbarui iman. Dahulu, para ulama dan salafushalih umumnya mempunyai majelis tertentu untuk meningkatkan iman. Khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta salah seorang ulama, Abu Bakr bin Amr bin Hazm rahimahullah, untuk duduk memberi ta’lim bagi diri dan rakyatnya. Seorang tabi’in yang bernama Alqamah bin Qais An Nakhi mengatakan “Mari berjalan bersama kami untuk saling menambah iman.” Ya, untuk menambah iman, untuk melembutkan hati, untuk menjadikan jiwa kita sensitif dengan kebaikan dan keburukan. Untuk itu kita memerlukan komunitas. Kita memerlukan sebuah majelis. Kita memerlukan sebuah lingkungan kecil yang dihadiri oleh saudara seiman yang dapat memuaskan dahaga dan membersihkan hati. Itulah yang dimaksud dengan majelis kaum beriman, “Kalau engkau merasakan hatmu kasar maka duduklah dengan para ahli dzikir, dan orang-orang zuhud, “ begitu ujar Ahmad bin Abi Hawari. Sampai-sampai seorang tokoh tabi’in terkenal Maimun bin Mahran pun pergi ke rumah tokoh tabi’in Hasan Al Bashri dan mengetuk pintunya sambil berkata, “Ya Abu Said (julukan Imam Hasan Al Bashri), aku merasakan kekasaran dalam hatiku. Karena itu, lembutkanlah.

Subhanallah,, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan. “Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR.Muslim, dari Abu Hurairah)

Di sana kita bisa jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah…ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Maka tepatlah jika forum seperti ini disebut sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta. Bahkan ketika suatu waktu anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di masjid kampus atau masjid kampung, mushola sekolah atau rumah seorang ustadz , lalu anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin kerena iseng saja, Insya Allah anda tidakkan kecewa. “… Seorang malaikat berkata, “Rabbi di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan majelis itu. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk mem-bersamainya!” (Potongan hadits Mutaffaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah, lihat Riyadhush Shalihin Bab Keutamaan Lingkaran Majelis Dikir) Maka demi Allah, apa yang anda tunggu?

Perkenalkan diri anda pada mereka sejelas-jelasnya. Katakan, anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu Insya Allah akan mencarikan majelis lain yang indah untuk anda. Kalau di kampus anda ada kegiatan bernama Mentoring maka bergabunglah. Setelah itu, bisa jadi Allah akan menguji anda, mungkin dengan perasaan bawah majelis ini tidak seperti yang anda harapkan, maka bersabarlah… Mungkin kadang kita tak merasakan nimatnya majelis kebersamaan ini. Padahal orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: